Tangerang, 19 April 2026 — Asosiasi Pendidikan Tinggi Farmasi Indonesia (APTFI) melanjutkan penyelenggaraan Leadership Forum 2026 pada hari kedua dengan mengangkat berbagai isu strategis yang relevan bagi penguatan tata kelola dan masa depan pendidikan farmasi Indonesia. Kegiatan ini menjadi ruang penguatan kapasitas bagi para pimpinan perguruan tinggi farmasi dalam menghadapi tantangan transformasi kurikulum, integritas kelembagaan, hilirisasi riset, serta kepemimpinan digital di era pendidikan tinggi modern.
Pada hari kedua, forum menghadirkan sejumlah pembicara nasional, yaitu Prof. Dr. Satibi, S.Si., M.Si., Apt., Prof. Ir. Selo, S.T., M.T., M.Sc., Ph.D., IPU, ASEAN Eng., Prof. apt. I Ketut Adnyana, M.Si., Ph.D., dan Prof. Dr. Didi Achjari, S.E., M.Com., Ak., CA. Keempat pembicara membawakan materi yang saling melengkapi, mulai dari evaluasi kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE), pembangunan Zona Integritas, inovasi dan hilirisasi riset, hingga digital leadership dalam pendidikan tinggi.
Dalam sesi mengenai Evaluasi Kurikulum Berbasis Outcome-Based Education dan Tindak Lanjutnya, Prof. Dr. Satibi, S.Si., M.Si., Apt. menekankan pentingnya kepemimpinan akademik dalam memastikan kurikulum tidak hanya menjadi dokumen administratif, tetapi benar-benar menjadi instrumen penjaminan mutu lulusan. Kurikulum berbasis OBE perlu dirancang, dievaluasi, dan ditindaklanjuti secara sistematis agar capaian pembelajaran lulusan dapat terukur dan selaras dengan kebutuhan masyarakat, dunia kerja, profesi, perkembangan ilmu pengetahuan, serta tantangan masa depan.
Materi tersebut juga menyoroti peran pemimpin akademik sebagai penentu arah, penggerak perubahan, penjaga mutu, pembangun ekosistem, sekaligus teladan akademik. Dalam implementasi kurikulum OBE, pimpinan perguruan tinggi dan program studi perlu mendorong budaya perbaikan berkelanjutan, pengambilan keputusan berbasis data, penguatan metode pembelajaran dan asesmen, serta tindak lanjut hasil evaluasi melalui mekanisme yang terstruktur.
Sesi berikutnya menghadirkan Prof. Ir. Selo, S.T., M.T., M.Sc., Ph.D., IPU, ASEAN Eng. dengan materi Pembangunan Zona Integritas (ZI). Paparan ini menekankan bahwa perguruan tinggi, termasuk fakultas dan program studi farmasi, perlu memperkuat tata kelola yang bersih, transparan, akuntabel, dan berorientasi pada pelayanan publik. Zona Integritas menjadi bagian penting dalam mewujudkan budaya akademik yang bebas dari praktik korupsi, kolusi, nepotisme, gratifikasi, pungutan liar, dan berbagai bentuk penyalahgunaan kewenangan.
Dalam konteks pendidikan tinggi, pembangunan Zona Integritas menjadi penting karena terdapat sejumlah potensi risiko dalam bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Risiko tersebut dapat muncul dalam bentuk ketidakjelasan prosedur layanan, gratifikasi, konflik kepentingan, penyimpangan pengelolaan anggaran, hingga kegiatan yang hanya bersifat administratif tanpa memberikan dampak nyata. Oleh karena itu, diperlukan SOP yang jelas, sistem layanan berbasis digital, penguatan pengawasan, mekanisme pelaporan yang aman, serta budaya integritas yang dibangun secara konsisten.
Pada sesi Inovasi dan Hilirisasi Riset, Prof. apt. I Ketut Adnyana, M.Si., Ph.D. menegaskan pentingnya riset yang tidak berhenti pada publikasi, tetapi bergerak menuju kemanfaatan yang lebih luas bagi masyarakat, industri, dan pembangunan nasional. Perguruan tinggi farmasi memiliki potensi besar dalam menghasilkan inovasi di bidang kesehatan, obat, bahan alam, teknologi formulasi, dan pengembangan produk berbasis riset.
Paparan tersebut menekankan bahwa riset perlu dibangun berdasarkan kebutuhan dan tantangan nyata, bukan hanya berdasarkan topik atau produk. Ekosistem riset yang berdampak membutuhkan sinergi antara publikasi kelas dunia, pengembangan talenta, kemitraan, hilirisasi, industri bernilai tinggi, serta dukungan regulasi dan pendanaan. Dalam konteks pendidikan farmasi, hilirisasi riset menjadi bagian penting untuk memperkuat kontribusi perguruan tinggi terhadap kemandirian kesehatan nasional dan daya saing inovasi Indonesia.
Sesi lainnya menghadirkan Prof. Dr. Didi Achjari, S.E., M.Com., Ak., CA. yang membahas Digital Leadership in Higher Education. Materi ini menyoroti bahwa kepemimpinan digital dalam pendidikan tinggi tidak hanya berkaitan dengan penggunaan perangkat lunak atau perangkat keras, tetapi juga menyangkut kemampuan pemimpin untuk mengarahkan transformasi ekosistem akademik secara strategis.
Digital leadership menuntut pemimpin perguruan tinggi untuk memiliki visi yang jelas dalam mengintegrasikan teknologi ke dalam pembelajaran, penelitian, administrasi, dan tata kelola institusi. Transformasi digital juga diperlukan untuk menjawab ekspektasi mahasiswa terhadap pembelajaran yang fleksibel dan personal, kebutuhan industri terhadap lulusan yang memiliki literasi digital, serta tuntutan daya saing global dalam pendidikan tinggi.
Dalam praktiknya, kepemimpinan digital dapat diwujudkan melalui penguatan pembelajaran hybrid dan blended learning, pemanfaatan platform pembelajaran interaktif, pengembangan smart campus, sistem administrasi terintegrasi, paperless office, otomatisasi layanan mahasiswa dan staf, serta peningkatan kapasitas digital dosen dan tenaga kependidikan. Pemimpin digital juga perlu menjadi role model dalam penggunaan teknologi, mendorong pelatihan berkelanjutan, serta memastikan transformasi digital berjalan inklusif dan berdampak.
Melalui keseluruhan sesi pada hari kedua, Leadership Forum 2026 APTFI memperkuat pesan bahwa masa depan pendidikan farmasi membutuhkan kepemimpinan akademik yang adaptif, visioner, berintegritas, dan berorientasi pada dampak. Transformasi kurikulum, penguatan budaya integritas, hilirisasi riset, dan kepemimpinan digital merupakan bagian penting dalam membangun perguruan tinggi farmasi yang unggul, relevan, dan berdaya saing.
APTFI berharap forum ini dapat menjadi momentum konsolidasi bagi seluruh perguruan tinggi farmasi di Indonesia untuk memperkuat tata kelola institusi, meningkatkan mutu pendidikan, memperluas kontribusi riset, serta menyiapkan lulusan farmasi yang kompeten, etis, inovatif, dan siap menghadapi perubahan global. Melalui Leadership Forum 2026, APTFI terus mendorong perguruan tinggi farmasi agar mampu menjadi pusat pendidikan, inovasi, dan pengabdian yang memberi dampak nyata bagi masyarakat dan sistem kesehatan nasional.
