Jakarta, 18 April 2026 — Asosiasi Pendidikan Tinggi Farmasi Indonesia (APTFI) menyelenggarakan Leadership Forum 2026 sebagai upaya memperkuat kepemimpinan akademik perguruan tinggi farmasi di Indonesia. Kegiatan yang mengusung tema “Strengthening Academic Leadership for Future Pharmacy Education” ini menjadi forum strategis bagi para pimpinan institusi pendidikan farmasi untuk merespons tantangan transformasi pendidikan tinggi, penguatan tata kelola, pengembangan sumber daya manusia, serta peningkatan mutu dan daya saing pendidikan farmasi nasional.
Melalui forum ini, APTFI menegaskan bahwa perguruan tinggi farmasi memiliki peran penting dalam menyiapkan sumber daya manusia kesehatan yang unggul, adaptif, dan relevan dengan kebutuhan masa depan. Di tengah perubahan besar dalam dunia pendidikan tinggi, perkembangan teknologi, dinamika kebutuhan layanan kesehatan, serta tuntutan globalisasi, kepemimpinan akademik menjadi faktor kunci dalam menentukan arah dan kualitas institusi pendidikan farmasi.
Pada hari pertama penyelenggaraan, Leadership Forum 2026 menghadirkan sejumlah pembicara nasional, yaitu Prof. Dr. Mukhamad Najib, S.T.P., M.M., Direktur Kelembagaan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi; apt. Abdul Rahim, S.Si., M.Si., Ph.D. dari Universitas Hasanuddin; Prof. Dr. Edy Suandi Hamid, M.Ec.; serta Prof. apt. Junaidi Khotib, S.Si., M.Kes., Ph.D. dari Fakultas Farmasi Universitas Airlangga dan Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Dalam sesi pertama, Prof. Dr. Mukhamad Najib, S.T.P., M.M. menyampaikan materi tentang Transformasi Pendidikan Tinggi Indonesia. Sesi ini menekankan bahwa pendidikan tinggi perlu mengambil peran lebih serius dalam mendukung Indonesia menjadi negara maju. Perguruan tinggi tidak hanya dituntut memperluas akses, tetapi juga meningkatkan kualitas, relevansi, daya saing, dan kontribusi nyata terhadap pembangunan nasional. Perguruan tinggi juga perlu memiliki peta jalan jangka panjang, memperkuat kapasitas inovasi, membangun jejaring global, serta menghadirkan talenta yang mampu menjawab kebutuhan masa depan.
Forum ini juga menyoroti pentingnya perubahan paradigma perguruan tinggi menuju University 4.0, yaitu perguruan tinggi yang tidak hanya berfokus pada pengajaran dan riset, tetapi juga memberikan dampak sosial, mendorong inovasi inklusif, memperkuat keberlanjutan, serta membangun kolaborasi dengan masyarakat, industri, pemerintah, dan berbagai pemangku kepentingan. Dalam konteks pendidikan farmasi, transformasi ini menjadi penting agar perguruan tinggi farmasi tidak hanya menghasilkan lulusan, tetapi juga menjadi pusat pengembangan ilmu, inovasi, dan kontribusi nyata bagi sistem kesehatan nasional.
Pada sesi pengelolaan mahasiswa unggul menuju prestasi PIMNAS, apt. Abdul Rahim, S.Si., M.Si., Ph.D. membawakan materi mengenai Strategi Pengelolaan Mahasiswa Unggul Menuju Prestasi PIMNAS. Dalam paparannya, pengembangan prestasi mahasiswa perlu dibangun melalui sistem yang terstruktur, mulai dari kebijakan institusi, dukungan kelembagaan, penyediaan sarana dan prasarana, pendampingan, strategi pembinaan, hingga sistem rekognisi yang jelas.
Perguruan tinggi juga perlu mendorong mahasiswa untuk aktif mengikuti kompetisi, menghasilkan karya, berorganisasi, menyelenggarakan kegiatan, serta memperoleh pengakuan atas capaian akademik dan nonakademik. Pemetaan talenta, pendampingan berkelanjutan, sistem penghargaan, dan budaya prestasi menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem mahasiswa unggul di lingkungan perguruan tinggi farmasi.
Pada sesi penguatan kepemimpinan akademik, Prof. Dr. Edy Suandi Hamid, M.Ec. membawakan materi Penguatan Kepemimpinan Akademik untuk Pendidikan Farmasi. Ia menekankan bahwa perguruan tinggi farmasi perlu memiliki visi yang jelas, tata kelola yang baik, budaya mutu yang kuat, serta roadmap pengembangan institusi yang terarah. Kepemimpinan akademik yang kuat menjadi kunci dalam mendorong program studi dan perguruan tinggi farmasi menuju akreditasi unggul, daya saing nasional, dan pengakuan internasional.
Dalam konteks tersebut, budaya mutu tidak hanya dipahami sebagai kewajiban administratif, tetapi sebagai kesadaran institusional untuk menghadirkan pendidikan yang bermanfaat, relevan, dan mampu menjawab tantangan masa depan. Perguruan tinggi farmasi juga perlu memperkuat kerja tim, kolaborasi, keselarasan organisasi, internasionalisasi, serta jejaring kerja sama sebagai bagian dari upaya peningkatan kualitas.
Selain itu, Prof. apt. Junaidi Khotib, S.Si., M.Kes., Ph.D. membahas Pengelolaan SDM dan Keuangan. Dalam paparannya, pengelolaan sumber daya manusia dan keuangan dipandang sebagai dua pilar strategis untuk mencapai keunggulan akademik dan operasional perguruan tinggi. Pengelolaan perguruan tinggi perlu dilakukan melalui siklus perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, evaluasi, dan tindak lanjut secara sistematis, dengan menekankan prinsip akuntabilitas, efisiensi, transparansi, dan mutu dalam kerangka Good University Governance.
Materi tersebut menegaskan bahwa perguruan tinggi yang berdampak membutuhkan tata kelola yang berintegritas, SDM yang kompeten, sistem keuangan yang sehat, serta budaya organisasi yang adaptif terhadap perubahan. Dalam menghadapi tantangan masa depan, perguruan tinggi farmasi perlu memperkuat kapasitas dosen, tenaga kependidikan, peneliti, dan seluruh unsur kelembagaan agar mampu mendukung pencapaian mutu akademik dan kontribusi institusi secara berkelanjutan.
Melalui keseluruhan sesi pada hari pertama, Leadership Forum 2026 APTFI menjadi ruang refleksi dan konsolidasi bagi pimpinan perguruan tinggi farmasi untuk memperkuat arah pengembangan institusi. Isu-isu seperti transformasi pendidikan tinggi, kualitas lulusan, prestasi mahasiswa, kepemimpinan akademik, tata kelola SDM, keuangan, akreditasi, serta internasionalisasi menjadi perhatian penting dalam membangun masa depan pendidikan farmasi Indonesia.
APTFI berkomitmen untuk terus menjadi wadah kolaborasi dan penguatan kapasitas bagi perguruan tinggi farmasi di Indonesia. Melalui Leadership Forum 2026, APTFI mendorong lahirnya pemimpin akademik yang visioner, kolaboratif, berintegritas, dan mampu membawa pendidikan farmasi Indonesia menuju masa depan yang lebih unggul, relevan, berdampak, dan berdaya saing.
