By Published On: 17/04/2026Categories: Berita

Tangerang, 17 April 2026 — Asosiasi Pendidikan Tinggi Farmasi Indonesia (APTFI) berkolaborasi dengan Lab Indonesia menyelenggarakan APITECH 2026 (APTFI Pharmaceutical Innovation and Technology Expo) di Indonesia Convention Exhibition (ICE), BSD City. Kegiatan ini menjadi ruang strategis bagi perguruan tinggi farmasi, peneliti, akademisi, industri, dan pemangku kepentingan untuk memperkuat ekosistem inovasi serta mempercepat hilirisasi hasil riset kefarmasian menjadi produk yang bermanfaat bagi masyarakat.

APITECH 2026 dihadirkan sebagai forum yang menekankan pentingnya transformasi riset dari sekadar luaran akademik menjadi inovasi yang memiliki nilai guna, nilai ekonomi, serta kesiapan untuk dikembangkan ke tahap komersialisasi. Melalui kegiatan ini, APTFI mendorong perguruan tinggi farmasi untuk tidak hanya berfokus pada publikasi ilmiah, tetapi juga memperkuat orientasi riset berbasis kebutuhan nyata masyarakat, industri, dan pembangunan nasional.

Dalam salah satu paparan, disampaikan bahwa ekosistem riset dan pengembangan yang berdampak perlu dibangun secara terintegrasi, mulai dari penelitian, pengembangan talenta, kemitraan, hilirisasi, hingga penguatan produk bernilai industri. Riset kefarmasian juga didorong agar tidak hanya berangkat dari topik atau produk, tetapi dari kebutuhan dan tantangan nyata yang memerlukan solusi berbasis sains dan teknologi.

Kegiatan ini turut menyoroti berbagai tantangan dalam hilirisasi riset, termasuk kesenjangan antara dunia akademik dan industri. Di lingkungan akademik, keberhasilan riset sering kali diukur dari kebaruan, signifikansi ilmiah, dan publikasi. Sementara itu, industri membutuhkan solusi yang stabil, dapat diproduksi secara konsisten, layak secara ekonomi, sesuai regulasi, dan memiliki peluang pasar yang jelas. Oleh karena itu, riset kefarmasian perlu dirancang sejak awal dengan mempertimbangkan aspek mutu, stabilitas, skalabilitas, regulasi, serta kebutuhan pengguna akhir.

Sejumlah narasumber dalam APITECH 2026 juga memaparkan contoh konkret hilirisasi produk kefarmasian dan obat bahan alam. Berbagai model pengembangan ditampilkan, mulai dari penguatan roadmap tingkat kesiapan teknologi, pengembangan obat herbal terstandar, inovasi produk jamu, formulasi berbasis bahan alam, hingga strategi membangun jembatan antara laboratorium, industri, dan pasar.

Salah satu contoh yang diangkat adalah pengembangan produk jamu dan natural health product yang tidak hanya bertumpu pada formulasi, tetapi juga pada data ilmiah, mutu, positioning produk, pengalaman pengguna, edukasi, dan kemitraan. Pendekatan ini menunjukkan bahwa hilirisasi membutuhkan ekosistem yang lengkap, termasuk dukungan akademik, industri, regulator, media komunikasi, dan jejaring pengguna.

Melalui APITECH 2026, APTFI menegaskan komitmennya untuk memperkuat peran perguruan tinggi farmasi sebagai motor inovasi nasional. Perguruan tinggi farmasi diharapkan mampu menghasilkan riset yang tidak berhenti di laboratorium, tetapi terus bergerak menuju produk yang aman, bermutu, relevan, berdaya saing, dan memberi dampak nyata bagi masyarakat.

Kolaborasi antara APTFI dan Lab Indonesia dalam penyelenggaraan APITECH 2026 menjadi langkah penting dalam membangun ekosistem inovasi kefarmasian yang lebih kuat. Forum ini diharapkan dapat memperluas jejaring kolaborasi antara akademisi, industri, regulator, dan mitra strategis lainnya, sekaligus membuka peluang lebih besar bagi produk riset farmasi Indonesia untuk hadir di pasar nasional maupun global.

Share This News, Choose Your Platform!