Silabus Kurikulum Program Pendidikan Profesi Apoteker terdiri atas :
Posted on 03 March 2009 by Admin Web
Silabus Kurikulum Program Pendidikan Profesi Apoteker terdiri atas :
Posted on 03 March 2009 by Admin Web
1. Compounding and Dispensing [2]
Pendahuluan, membahas tentang praktek farmasi, skrining resep (legal, farmasetik, klinis, sosial-ekonomis); cara compounding yang baik, perhitungan dalam compounding and dispensing, compounding obat steril dan non-steril; aplikasi dan saling keterkaitan berbagai bidang ilmu kefarmasian, pemrosesan resep secara profesional, penggunaan obat rasional (POR); simulasi dan praktek serta studi kasus dalam compounding and dispensing
Pustaka :
a. Herfindal, E.T., Gourley, D.R., 2000, Textbook of Therapeutic Drug and Disease Management, 7th Ed., W & W Publs., Philadelphia.
b. Allen, L.V., 2002, The Art, Science and Technologynof Pharmaceutical Compounding, APhA, Washington
c. Swinghammer, T.I., 2002, Pharmacotherapy Case-book a Patien-Focused Approach, 5th Ed., McGraw-Hill, New York
d. Winfield, A.J., Richards, R.M.E., 2004, Pharma-ceutical Practice, 3rd Ed., Livingstone, New York
e. WHO, 1996. Good Pharmacy Practice (GPP) in Community and Hospital Pharmacy Settings.
f. ASHP 2001-2002, Best Practices for health-System Pharmacy, Position and Guidance Documents of ASHP.
g. ASHP, 2004, AHFS Drug Information
h. Anonim, SK Menkes No. 1027/Menkes/SKIX/ 2004
2. Pelayanan Kefarmasian [2]
Pendahuluan; matakuliah ini membicarakan tentang definisi dan ruang lingkup (domain); arti penting bagi profesi apoteker dan fungsi-fungsi praktek apoteker; kebutuhan pasien akan terapi obat dan tujuan dari terapi obat; problema-problema terapi obat dan penyebab-penyebabnya; koleksi data pasien (data base); evaluasi data pasien; pengembangan rencana patient care; presentasi kasus pasien (patient case presentation) atau pendokumentasian pelayanan; monitoring, evaluasi, dan tindak lanjut terapi obat; kendala-kendala pelaksanaan; pemasaran/promosi pelayanan kefarmasian (marketing-promoting pharmaceutical care); kriteria kesiapan dan cara memulai praktek; standar praktek pelayanan kefarmasian; dan beberapa studi kasus tentang problema terapi obat dengan penyelesaian permasalahan menggunakan pen-dekatan secara sistematik, seperti : SOAP (Subjective Objective Assesment Plan), PWDT (Pharmacist Workup Drug Therapy), FARM (Finding Assesment Recommendation Monitoring), LKKPTO (Lima Kunci Kebutuhan Pasien akan Terapi Obat), dll.
Pustaka :
a. Rovers, J.P., Currie, J.D., Hagel, H.P., McDonough, R.P., Sobotka, J.L., 2003, A Practical Guide to Pharmaceutical Care, 2nd Eddition, AphA, Washington, D.C.
b. Cipolle, R.J., Strand, L.M., and Morley, P.C., 1998, Pharmaceutical Care Practice, McGraw Hill, New york.
c. Tindall, W.N., and Millonig, M.K., 2003, Pharmaceutical Care: Insight from Community Pharmacists, CRC Press, Boca Raton.
d. Tietze, K.J., 2004, Clinical Skill for Pharmacists A patient-Focused Approach, 2nd Edition, Mosby, St. Louis.
e. Koda-Kimble, A.N., Lee Young, L., Kradjan, W.A., Guglielmo, B.J., ., 2005, Applied Therapeutics : The Clinical Use of Drugs, Eighth Ed., Lippincot William & Wilkins, Philadelphia
3. Manajemen Farmasi [2]
Konsep dasar manajemen (batasan, filosofi, dan proses manajemen); fungsi dasar manajemen di apotek, IFRS, dan industri (perencanaan, pengorganisasian/SDM, pengarahan, pengendalian, dan pengambilan keputusan); Sistem Informasi Manajemen; Manajemen mutu terpadu (Total Quality Mana-gement); manajemen apotek (studi kelayakan dan budgeting, inventory control system, keuangan, pemasaran, peraturan perundangan yang terkait dengan apotek, manajemen pelayanan dan informasi obat di apotek, dan strategi pengembangan); manajemen farmasi rumah sakit (perencanaan, pengadaan perbekalan farmasi, penyimpanan, pengemasan, distribusi, dan pengendalian); manajemen industri farmasi (manajemen perse-diaan, QA, manajemen industri, pengembangan produk, regulasi, dan informasi produk);
Pustaka :
a. Stoner, J.A.F., R.E. Freeman, and D.R. Gilbert Jr, 1995, Management, Prentice Hall in New Jersey
b. Tootelian, D.H. and Gaedeka, R.M., 1993, Essentials of Pharmacy Management, Mosby-Yess Yook Inc., St. Louis.
c. WHO, 2007, Quality Assurance of Pharmaceuticals 2nd ed., Geneve
d. Desselle, S.P. and Zgarrik, D.P., 2005, Pharmacy Management Essentials for All Practice Settings, McGraw-Hill Medical Publishing Division, New York.
4. Farmakoterapi Terapan [2]
Memahami dan mengevaluasi regimentasi dosis untuk setiap kasus khusus pada farmakoterapi sistem syaraf; sistem renal dan kardivaskular; sistem pencernaan dan pernafasan; sistem hormon dan endokrin; penyakit infeksi; kanker; patofisiologi dan pemilihan obat untuk masing-masing penyakit; dan evaluasi penggunaan beberapa obat pada beberapa kasus.
Pustaka:
a. Dipiro, J.T., Talbert, RI., and Yen, G.C., 1997, Pharmacotherapy:A Pathophysiologic Approach, 3rd. ed., Appleton & Lange, Stamford.
b. Herfindal, E.T., and Gourley, D.R., 2000, Text-book of Therapeutics, Drug and Disease Management, 7th. ed., Lippincot & Williams, Philadelphia
c. O Graddy, F., Lambert, H.P., Finch, R.G., and Greenwood, D., 1997, Antibiotic and Chemo-therapy : Anti-infective agents and their use in therapy, 7th. Ed., Churchill, Livingstone.
d. Schwinghammer, T.L., 2002, Pharmacotherapy Casebook: A Patient Focused Approach, 5th. Ed., McGraw-Hill Companies, New York.
e. McPhee, S., Lingappa, V.R., Ganong, W.F., Lange J.D., 2000, Pathophysiology of Disease : An Introduction to Clinical Medicine, 3rd Ed., McGraw-Hill, New York.
f. Koda-Kimble, A.M., Lee Young, L., Kradjan, W.A., Guglielmo, B.J.,2005, Applied therapeutics : The Clinical Use of Drugs, Eighth Ed., Lippincot William & Wilkins, Philadelphia.
5. PKP Apotik (wajib) [4]
Matakuliah ini merupakan bentuk praktek kerja profesi di apotek terutama pelaksanaan langsung di apotek yang meliputi : organisasi apotek dan pembelajaran berdasarkan pengalaman kerja yang mencakup aspek administrasi dan perundang-undangan, aspek manajerial, aspek pelayanan kefarmasian dan aspek bisnis
Pustaka :
a. Anonim, 2002, Permenkes RI No.1332/Menkes/ X/2002, tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Ijin Apotek, Depkes RI, Jakarta
b. Anonim, 2004, Permenkes RI No.1027/Menkes/ SK/IX/2004 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek, Depkes RI, Jakarta
c. APTFI, 2008, Surat Keputusan Majelis APTFI No:002/APTFI/MA/2008 tentang Standar Praktek Kerja Profesi Apoteker
d. Suryono, S., 2001, Manajemen Apotek, Airlangga University Press., Surabaya
6. a. PKP Rumah Sakit [4]
Matakuliah ini merupakan bentuk praktek kerja profesi di rumah sakit terutama pelaksanaan langsung di instalasi farmasi rumah sakit, untuk mengetahui organisasi rumah sakit dan farmasi rumah sakit, tentang pengelolaan perbekalan farmasi (perenca-naan dan pemilihannya, pengadaan, distribusi); penggunaan obat; produksi di IFRS; CSSD; laboratorium internal; sistem manajemen informasi obat; sistem pengendalian dan infeksi mosokomial; dan praktek farmasi klinik
Pustaka :
a. Anonim, 2004, Permenkes RI No.1042/Menkes/ SK/IX/2004, tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit, Depkes RI, Jakarta.
b. APTFI, 2008, Surat Keputusan Majelis APTFI No: 002/APTFI/MA/2008 tentang Standar Praktek Kerja Profesi Apoteker
c. Hassan, W.E., 1986, Hospital Pharmacy, 5th Ed., Lea and Febiger, Philadelphia
d. Quick, J., 1997, Managing Drug Supply, Humani Press, New York
e. Santoso, B., 1999, Manajemen Obat Rumah Sakit, MMF, Yogyakarta
6. b. PKP Industri Farmasi [4]
Matakuliah ini merupakan bentuk praktek kerja profesi di industri farmasi atau yang sejenis terutama untuk memberikan gambaran yang lebih jelas tentang industri farmasi, penerapan CPOB, proses pembuatan sediaan farmasi, sarana dan prasarana dalam industri farmasi, dan fungsi kefarmasian dalam industri farmasi.
Pustaka :
a. APTFI, 2008, Surat Keputusan Majelis APTFI No:002/APTFI/MA/2008 tentang Standar Praktek Kerja Profesi Apoteker
b. Anonim, 2000, Asean GMP Guidelines, 4th. Ed., Jakarta
c. Anonim, 2001, Pedoman Cara Pembuatan Obat yang Baik, Badan POM RI, Jakarta
d. Anonim, 2001, Petunjuk Operasional Pedoman Cara Pembuatan Obat yang Baik, Badan POM RI, Jakarta
6. c. PKP Pemerintahan [4]
Matakuliah ini merupakan bentuk praktek kerja profesi di lembaga pemerintahan terutama untuk memberikan gambaran yang lebih jelas tentang peran apoteker dalam penentuan kebijakan obat baik nasional maupun regional, distribusi dan ketersediaan obat sampai sarana pelayanan kesehatan yang terendah.
Pustaka :
APTFI, 2008, Surat Keputusan Majelis APTFI No: 002/APTFI/MA/2008 tentang Standar Praktek Kerja Profesi Apoteker
Posted on 03 March 2009 by Admin Web
1. Materi Pembelajaran Institusional : minimal 12 SKS, dapat berwujud PKP atau matakuliah yang minimal terdiri atas 3 materi pembelajaran.
2. Matakuliah-matakuliah yang bisa diberikan pada Materi Pem-belajaran Institusional adalah :
1.) Komunikasi dan Konseling [2]
2.) Farmasi Industri [2]
3.) Farmasi Rumah Sakit [2]
4.) Biofarmasetika Terapan [2]
5.) Interaksi Obat [2]
6.) Pengobatan Sendiri [2]
7.) Penyalahgunaan Obat [2]
8.) Manajemen SDM [2]
9.) Manajemen Pemasaran [2]
10.) Farmasi Sosial [2]
11.) Ilmu Kesehatan Masyarakat [2]
12.) Herbal medisin [2]
13.) Kesalahan Pengobatan (medication error) [2]
14.) Manajemen Keracunan [2]
15.) Nutrasetika [2]
16.) Farmakogenomika [2]
17.) Farmasi Veteriner [2]
18.) Farmasi Klinik [2]
19.) Patologi Klinik [2]
20.) Kosmesetika [2]
21.) Patofisiologi [2]
22.) Merespon Gejala Penyakit (Responding To Symptoms) [2]
23.) Administrasi Farmasi/Regristrasi [2]
1). Komunikasi dan Konseling [2]
Pendahuluan; pengertian, fungsi, dan tujuan komunikasi; komunikasi efektif; etika berkomunikasi; pengertian, fungsi, dan tujuan konseling; membangun hubungan profesional; memahami pasien; dasar-dasar konseling obat; metode edukasi; ketrampilan melakukan konseling; manajemen konflik; mengatasi pasien yang marah; interaksi dengan dokter; komunikasi persuasif; faktor-faktor penghambat; simulasi dan studi kasus.
Pustaka :
a. Berger, B.A., 2005, Communikation Skills for Pharmacists: Building Relationships, Improving Patient Care, 2nd Edition, APhA, Washington, D.C.
b. Rantucci, M.J., 1997, Pharmacists Talking with Patients a Guide to Patient Counseling, Williams & Wilkins, Baltimore.
c. Meldrum, H., 1994, Interpersonal Communica-tion in Pharmaceutical Care How to be A (Really) Professional Pharmacist, Pharmaceu-tical Product Press, New York.
d. Tindall, W.N., Beardsley, R.S., and Kimberlin, C.L., 1994, Communication Skills in Pharmacy Practice A Practical Guide for Students and Practitioners, 3rd Edition, Williams & Wilkins, Baltimore.
e. Gardner, M.E., Herrier, R.N., and Meldrum, H., 2000, Patient Communication in Clinical Pharmacy Practice, in Textbook of Therapeutics Drug and Disease Management, Herfindal, E.T. and Gourley, D.R. Eds, Lippincott Williams &Wilkins, Philadelphhia.
2). Farmasi Industri [2]
Matakuliah Farmasi Industri membahas tentang perma-salahan yang dihadapi industri farmasi mulai dari pengadaan bahan awal, proses pembuatan sediaan farmasi, sampai sediaan lolos edar, mencakup CPOB, yang meliputi bahasan tentang ketentuan umum personalia, bangunan, peralatan, sanitasi, pengawasan mutu, inspeksi diri, penanganan terhadap hasil pengamatan; keluhan dan penarikan kembali obat yang beredar, dokumentasi; validasi; perencanaan; produksi dan pengendalian persediaan,; penanganan limbah industri farmasi
Pustaka :
a. Anonim, 2000, Asean GMP Guidelines, 4th. Ed., Jakarta
b. Anonim, 2001, Pedoman Cara Pembuatan Obat yang Baik, Badan POM RI, Jakarta
c. Anonim, 2001, Petunjuk Operasional Pedoman Cara Pembuatan Obat yang Baik, Badan POM RI, Jakarta
d. Berry, I.R., Nash, R.A., 1993, Pharmaceutical Process Validation, 2nd Ed., Marcel Dekker Inc., New York
e. Willig S.N., Stoker J.R., 1992, Good Manufacturing Practices for Pharmaceutical: A Plan for Total Control, 3rd Ed., Marcel Dekker, New York.
3). Farmasi Rumah Sakit [2]
Matakuliah FRS membahas tentang rumah sakit, instalasi farmasi rumah sakit, pengelolaan perbekalan farmasi (perenca-naan dan pemilihannya, pengadaan, distribusi), penggunaan obat, produksi di IFRS, CSSD, laboratorium internal, sistem manajemen informasi obat, sistem pengendalian dan infeksi mosokomial
Pustaka :
a. Hassan, W.E., 1986, Hospital Pharmacy, 5th Ed., Lea and Febiger, Philadelphia
b. Quick, et . al., 1997, Managing Drug Supply, Humani Press, New York
c. Santoso, B., 1999, Manajemen Obat Rumah Sakit, MMF, Yogyakarta
4). Biofarmasetika Terapan [2]
Pendahuluan; arti penting Biofarmasetika Terapan dalam praktek; Biopharmaceutics Classification Scheme (BCS) dan rule of five; problema biofarmasetik produk obat dan contoh-contohnya; bioavailabilitas dan bioekuivalensi; kriteria produk obat yang baik dan keputusan pemilihan produk obat; pitfalls dalam pemasaran/ presentasi data produk obat; penilaian data cross-study comparisons; seleksi produk obat dalam dispensing obat pada pasien; professional judgment substitusi produk obat; penyakit gastrointestinal dan sistemik yang mempengaruhi absorpsi obat dan efek klinisnya; dan korelasi in vitro - in vivo (IVIVC) produk obat.
Pustaka :
a. Sinko, P.J., 2006, Martin’s Physical Pharmacy and Pharmaceutical Sciences, 5th Edition, Lippincott Williams & Wilkins, Philadelphia.
b. Ritschel W.A. and Kearns, G.L., 2004, Handbook of Basic Pharmacokinetics Including Clinical Applica-tions, 6th Edition, American Pharmaceutical Association, Washington, D.C.
c. Williams, R.L., Brater, D.C., and Mordenti, J., 1990, Rational Therapeutics A Clinical Pharmacologic Guide for Health Professional, Marcel Dekker Inc, New York.
d. Shargel, L., Wu-Pong, S., and Yu, A.B.C., 2005, Applied Biopharmaceutics & Pharmacokinetics, 5th Edition, McGraw Hill, Boston.
e. Dipiro, J.T., Talbert, RI., and Yen, G.C., 1997, Pharmacotherapy:A Phatophysiologic Approach, 3rd. ed., Appleton & Lange, Stamford.
f. Dressman, J. and Kramer, J., 2005, Pharmaceutical Dissolution Testing, Taylor & Francis, Boca Raton.
g. Dressman, J.B. and Lennernas, H., 2000, Oral Drug Absorption Prediction and Assessment, Marcel Dekker Inc., New York.
5). Interaksi obat [2]
Perspektif interaksi obat; ruang lingkup (domain); arti interaksi obat dalam terapi; signifikansi klinis pada onset & offset, keparahan, dan dokumentasi interaksi obat; interaksi obat secara farmakokinetik dan farmakodinamik beserta contoh kasus-kasusnya; interaksi obat dengan makanan dan minuman beserta kasus-kasusnya; interaksi obat dengan penyakit beserta kasus-kasusnya; interaksi obat dengan nutrisi beserta kasus-kasusnya; interaksi obat dengan senyawa dalam lingkungan beserta kasus-kasusnya; dan manajemen klinis interaksi obat.
Pustaka :
a. Stockley, I.H., 2005, Stockley’s Drug Interactions, Pharmaceutical Press, London.
b. Tatro, D.S., 2001, Drug Interaction Facts, A Wolters Kluwer Company, St. Louis.
c. Bailie, G.R., Johnson, C.A., Mason, N.A., and St.Peter, W.L., 2004, Medfacts Pocket Guide of Drug Interactions, 2nd Ed., Bone Care International and NPA
d. Piscitelli, S.C. and Rodvold, K.A., 2001, Drug Interactions in Infectious Diseases, Humana Press, Totowa.
e. Mosayani, A., and Raymond, L.P., 2004, Handbook of Drug Interactions A Clinical and Forensic Guide, Humana Press, Totowa.
f. Thomson, 2007, PDR Electronic Library & PDR Drug Interactions.
6). Pengobatan Sendiri [2]
Pendahuluan,membahas tentang dasar-dasar dan system pengobatan sendiri, proses terapi dan pengobatan yang rasional; penilaian penderita OTC; iklan obat; obat-obat : selesma, batuk, asma, nyeri, nyeri local, dysmenorea primer diare, konstipasi, gastritis akut, demam (DB), cacingan, penggunaan vitamin dan mineral, jerawat, luka bakar dan pelindung cahaya matahari (sun screen).
Pustaka :
a. Herfindal, E.T., Gourley, D.R., 2000, Textbook of Therapeutic Drug and Disease Management, 7th Ed., W & W Publs., Philadelphia.
b. Alpha, L., 2002, Applied Handbook of Non-Prescreption Drugs, 13th Ed., McGraw-Hill, New York.
c. Dollery, S.C., 1999, Therapeutics Drugs, 2nd Ed., Marcel Dekker, New York
d. AMA, 1995, Drug Evaluation Annual, AMA Publ., New York
7). Penyalahgunaan Obat [2]
Pendahuluan, membahas tentang pengetahuan ketergan-tungan dan penyalahgunaan obat; neurobiologi ketergantungan jasmani (withdrawal) dan psikis (dependence); patofisiologi keter-gantungan dan penyalahgunaan obat seperti : CNS depressant, CNS stimulant, halusinogen substances, alkohol dan miras, nikotin dan strategi penatalaksanaan terapinya; uji kualitatif dan kuantitatif withdrawal dan ketergantungan substance abuse; serta studi kasus tentang penyalahgunaan obat).
Pustaka :
a. Herfindal, E.T., Gourley, D.R., 2000, Textbook of Therapeutic Drug and Disease Management, 7th Ed., W & W Publ., Philadelphia.
b. McPhee, S., Lingappa, V.R., Ganong, W.F., Lange J.D., 2000, Pathophysiology of Disease : An Introduction to Clinical Medicine, 3rd Ed., McGraw-Hill, New York
c. DiPiro, J.T., Talbert, R.L., Yee, G.C., Matzke, G.R.,Wells, A.G., Pasey, L.M., 1997, Pharmaco-therapy a Phatophysiological Approach, 3rd Ed., Apleton & Lange, Stanford.
d. Anonim, 2000, Informatorium Obat Nasional Indonesia, Depkes RI, Jakarta
e. WHO, 1986, Menanggulangi Ketagihan Obat dan Alkohol, Penerbit R, Bandung
8). Manajemen Sumber Daya Manusia [2]
Pendahuluan, membahas tentang manajemen SDM yang meliputi : perekrutan, penempatan, pelatihan dan pengembangan, pengelolaan mutu, kompensasi (reward and pinishment), hubungan perburuhan dan keselamatan kerja Manajemen SDM.
Pustaka :
a. Dessler, G., 1997, Human Resources Management, 7th Ed., Prentice Hall, New Jersey.
b. Schermerhorn, J.R., 1999, Management, 5th Ed., John Willey & Sons, New York
9). Manajemen Pemasaran [2]
Pendahuluan, membahas tentang pemasaran, bagaimana membangun kepuasan, nilai, upaya mempertahankan pelanggan; persaingan di bisnis farmasi; mengidentifikasi segmen pasar, memilih sasaran dan memenangkan pasar; perencanaan strategis yang berorientasi pasar anlisis SWOT PBM Mix; dan menghadapi persaingnan dan mengembangkan strategi pemasaran.
Pustaka :
a. Van Horne, J., 2000, Financial Management and Policy, Prentice Hall, New Jersey.
b. Walley, T., Haycox A., Boland, R., 2004, Pharmaco-economics, Churchill Livingstone., Philadelphia.
c. Lindstone, J., Macleman, J., 1999, Marketing Planning for the Pharmaceutical Industry, 2nd Ed., Gower Publ., Burlington
d. Kotler, P., 2000, Marketing Management, 10th Ed., Prentice Hall, New Jersey.
10). Farmasi Sosial [2]
Pendahuluan; membahas tentang hubungan kondisi sosial masyarakat dengan asuhan kefarmasian dan kesehatan; aspek sosial dan perilaku; promosi kesehatan dan pendidikan masyarakat; model-model perilaku sehat; studi kasus yang menyangkut farmasi sosial.
Pustaka :
a. Anonim, 1990, The Role of Pharmacist on Health Care System, WHO, Geneve
b. Anonim, 1994, Good Pharmacy Practice in Community and Hospital,WHO, Geneve
c. Anonim, 1998a, Pharmaceutical Care, FIP Statement of profesional standard, The hague
d. Harding, G., Nettleton, S., Taylor, K.D., 1993, Sociology for Pharmacist : An Introduction, McMillan Press, Hongkong
e. Harding, G., Nettleton, S., Taylor, K.D., 1994, Social Pharmacy, Pharm. Press, London
f. Taylor, K., Smith, M.C., 2001, Pharmacy Practice, Taylor & Francis, London
g. Winfield, A.J., Richards, R.M.E., 2004, Pharma-ceutical Practice, 3rd Ed., Livingstone, New York
11). Ilmu Kesehatan Masyarakat [2]
Pendahuluan; konsep kesehatan masyarakat; pengertian tentang public health, preventive health and public health pharmacy; riset dalam kesehatan masyarakat; sehat dan kegiatan pokok kesehatan masyarakat; indicator derajad kesehatan; sasaran operasional kesehatan masyarakat, Indonesia sehat 2010
Pustaka :
a. Burton, L.E., Smith, H.H., 1995, Public Health and Community Medicine, 2nd Ed., Williams & Wilkins, Baltimore
b. Bush, P.J., Johnson, K.W, 2008, Where Is the Public Health, Pharmacist?, Am. J. Pharm. Educ, 43, 249-252
12). Herbal Medisin [2]
Pendahuluan; membahas tentang hal-ihwal yang terkait dengan tumbuhan obat serta herbal medisin dengan segala aspeknya, utamanya dari segi pandang botani, farmakognosi, fitokimia dan farmakologi dalam upaya pemeliharaan kesehatan dan pengobatan.
Pustaka :
a. Mill, S., Bone, K., 2000, Principles and Practice of Phytotherapy-Modern Herbal Medicine, Churchill Livingstone., Toronto.
b. Philip, R.B., 2004, Herbal-Drug Interaction and Adverse Effects-An Evidence Based Quick Reference Guide, McGraw-Hill, New York
c. Ross, I,A., 1999, Medicinal Plants of the World, Humana Press, Totowa.
d. Schule, V., Hansel, R., Tyler, V.E., 1997, Rational Phytotherapy, Springer, Berlin
e. Newall, C.A., Anderson, L.A., Philipson, J.D., 1996, Herbal Medicines-A Guide for Health-care Proffesionals, Pharm. Press, London
13). Kesalahan Pengobatan (medication error) [2]
Pendahuluan; membahas tentang kesalahan pengobatan dan prevensinya; penyebab kesalahan pengobatan; pendekatan sistem terhadap kesalahan pengobatan; prevensi kesalahan pengobatan; kesalahan pengobatan pada kondisi dan penyakit spesifik; dan kesalah pengobatan dan manajemen resiko
Pustaka :
a. Jackson, M.R., 1999, Medication Errors, APhA, Washington
b. Malone P.M., Mosdell, K.W., Kier. K.L., Stanivich, J.F., 2001, Drug Information : A Guide for Pharmacist, McGraw Hill, New York
14). Manajemen Keracunan [2]
Pendahuluan; membahas aspek keracunan akut, kronis, disengaja maupun tidak disengaja; identifikasi racun; diagnosis keracunan; tatalaksana terapi keracunan yang tepat pada keracunan obat, pestisida, makanan dan minuman, logam berat, dan narkotika.
Pustaka:
a. Goldfrank, L.R., 1990, Toxicologic Emergencies, 4th Ed., Apleton & Lange, Norwalk
b. Olson K.R., 1990, Poisoning and Drug Overdose, 1st Ed., Apleton & Lange, Norwalk
c. Stine K.E., Brown, T.M., 1996, Principle of Toxicology, CRC Press, Florid
d. Donatus, I.A., 1992, Toksin Pangan, UGM Press, Yogyakarta
e. Flanagan, R.J., Braithwaite, R.A., Brown, S.S., Widdop, B., de Wolff, F.A., 1995, Basic Analytical Toxicology, WHO, Geneve
15). Nutrasetika [2]
Pendahuluan; arti penting nutrisi dalam terapi dan kesehatan; kebutuhan nutrisi manusia; kebutuhan nutrisi pada pasien dengan penyakit tertentu; penyakit mendeplesi nutrisi dan perlunya nutrisi tambahan; obat dapat mendeplesi nutrisi dan perlunya nutrisi ditambahkan dalam terapi obat; nutrisi-nutrisi yang berguna dalam terapi dan dalam menjaga kesehatan. Nutrisi untuk meningkatkan sistem imun, mencegah penyakit kardio-vaskuler, mencegah penuaan dini, menurunkan kolesterol, memperbaiki fungsi ginjal dan liver, memperbaiki mood dan perilaku; mengurangi gejala asma, dan pengatasan diabetes mellitus.
Pustaka :
a. Anonim, 2005, PDR Nutritional Supplements Guide.
b. Watson, R.R. and Preedy, V.R., 2004, Nutrition and Heart Disease Causation and Prevention, CRC Press, Boca raton.
c. Truswell, A.S., 2003, ABC of Nutrition, 4th Edition, BMJ Publishing, London.
d. Frost, G., Dornhorst, A., and Moses, R., 2003, Nutritional Mnagement of Diabetes Mellitus, John Wiley & Sons, Chichester.
e. Anonim, 2000, Integrative Medicine Professional Access, Integrative Medicine Communications, New York
f. Talbott, S.M, 2003, A Guide to Understanding Dietary Supplements, The Haworth Press, New York.
16). Farmakogenomika [2]
Pendahuluan; variabel genetik yang menyebabkan perbe-daan individual manusia dalam respons terhadap obat; varian-varian monogenetik yang mempengaruhi respons terhadap obat; informasi genetik dalam pemilihan obat, penentuan dosis dan lama pengobatan; terapi sebagai pendekatan untuk mengatasi dan menyembuhkan penyakit dengan mengubah ekspresi gen; obat regeneratif dan stem cell; rekayasa jaringan untuk membuat, memperbaiki, dan atau menggantikan jaringan.
Pustaka:
a. Elliot, W.H., Elliot D.C., 1996, Biochemistry and Molecular Biology, John Wiley And Sons, New York
b. Sambrook, J., Fritsch, F.F., Maniatis, T., 1989, Molecular Clonning, 2nd Ed., Harbor Press. New York.
c. Lodish, H., Beck, A., Zipursky, S.L., Matsudaira, P., Darnel, J., 2000, Molecular Cell Biology, 4th Ed., Freeman & Co., New York
d. Lewin B., 2000, Genes VII, Oxford Univ. Press. London
17). Farmasi Veteriner [2]
Pendahuluan; permasalahan sediaan veteriner; dasar pemilihan sediaan veteriner; sistem digestive, kulit, liver, ginjal dan organ lain dari hewan; nasib obat dalam tubuh hewan; jenis-jenis obat veterinar; produk veteriner; bentuk sediaan: oral, feed additive premix, obat lewat minuman, dan topikal.
Pustaka :
a. Banker, G.S., Rhodes, C.T., 1996, Modern Pharma-ceutics, 3rd Ed., Marcell Dekker, New York
b. Bishop, Y., The Verinary Formulary, 5th Ed., Pharm. Press, Great Britain
c. Blodinger, J., 1993, Formulation of Veterinary Dosage Forms, Marcell Dekker, New York.
18). Farmasi Klinik [2]
Pendahuluan; membahas tentang sejarah dan pengertian tentang farmasi klinik; kegiatan dan proses dalam farmasi klinik; metode pendekatan dan penyelesaian masalah dalam farmasi klinik; drug induces disease; interpretasi hasil pemeriksaan fisik dan data laboratorium; terapi pada kelompok pasien tertentu dan studi kasus.
Pustaka :
a. Aslam, M., Tan, C.K., Prayitno, A., 2003, Farmasi Klinis, PT Elex Media, Jakarta
b. Herfindal, E.T., Gourley, D.R., 2000, Textbook of Therapeutic Drug and Disease Management, W & W Publs., Philadelphia.
c. Hughes, J., Donelly, R., Chatgilou, J.G., 1998, Clinical Pharmacy : A Practical Approach, The SHPAus, Sidney.
d. Jones, W.N., Campbell, S., 1993, Designing and Recomending a Pharmacist Care Plan, Clinical Skill Program, ASHPh, New York
19). Patologi Klinik [2]
Pendahuluan, manfaat patologi klinik dan hubungannya dengan farmasi; hematologi dan interpretasi hasil pemeriksaan laboratorium; kelenjar paratiroid dan metabolisme kalsium; lipid dan pemeriksaan laboratorium pada penyakit kardiovaskular, DM dan pemeriksaan laboratorium penunjang; enzim-enzim yang berguna dalam diagnostik klinik; test fungsi: hati, ginjal dan interpretasi hasil laboratorium; pemeriksaan laboratorium pada kehamilan, pancreas dan intestine, penandaan kanker (CA marker); dan penyakit karena virus (TORCH)
Pustaka :
a. Greene, R.J., Harris, N.D., Goodyear, L.I., 2000, Pathology and Therapeutics for Pharmacists ; A Basic for Clinical Pharmacy, Pharm. Press, London
b. Bishop, M.L., Engelkirk, J.L., Fody, E.P., Clinical Chemistry : Principles, Procedures, Correlation, 3rd Ed., Lippincot, Philadelphia
c. Widman, F.K., 1993, Clinical Interpretation of Laboratory Test, 9th Ed., Davis Co., Philadelphia.
20). Kosmesetika [2]
Pendahuluan; arti penting/ kegunaan kosmesetika dalam praktek kefarmasian; kosmetika untuk perawatan kulit, struktur dan fungsi kulit, warna kulit, kondisi kulit, sinar UV dan kulit, penuaan kulit, peremajaan kulit, dan jerawat; kosmetika untuk perawatan rambut, fisiologi pertumbuhan rambut, pengaruh hormon, tipe rambut, warna rambut, komposisi kimiawi rambut, kerusakan rambut, pengaruh nutrisi dan hormonal; kosmetika untuk kuku; bahan-bahan kosmesetika meliputi pemutih, penumbuh rambut, perawatan kulit, anti jerawat, anti gatal, anti ketombe, anti perspiran dan deodoran, perawatan gigi dan mulut, dan lain-lainnya; pewarna rambut; parfum; dan peraturan tentang kosmetika.
Pustaka :
a. Mitsui, T, 1997, New Cosmetic Science, Elsevier, Amsterdam.
b. Breuer, M.M., 1980, Cosmetic Science, Volume 2, Academic Press, New York.
c. Wilkinson & More, 1982, Harry’s Cosmetology, 7th Edition, Chemical Publishing, New York.
21). Patofisiologi
Pendahuluan; pengertian dasar patofisiologi, seperti penyakit, sakit, dan perubahan-perubahan patofisiologis; cairan dan elektrolit; patofisiologi sistem-sistem tubuh yang meliputi kardiovaskuler, respirasi, syaraf, hematologi, immun, endokrin, renal, hepatik, reproduktif, dan muskoloskeletal.
Pustaka :
a. Frizzell, J.P., 2001, Handbook of Pathophysiology, Springhouse Corporation, Springhouse
b. DiPiro, J.T., Talbert, R.L., Yee, G.C., Matzke, G.R., Wells, A.G., Pasey, L.M., 1997, Pharmacotherapy a Phatophysiological Approach, 3rd Ed., Apleton & Lange, Stanford.
22). Merespon Gejala Penyakit (Responding To Symptoms) [2]
Pendahuluan; arti penting merespon gejala penyakit dalam praktek; proses merespon gejala penyakit; obat yang dapat diberikan oleh apoteker; tanda dan gejala berbagai penyakit; pemilihan opsi terapi oleh apoteker untuk pasiennya; penanganan gejala penyakit; konfirmasi diagnosis; membedakan penyakit ringan (minor illness) dan berat (major disease); pemberian terapi dan konseling; hasil terapi dan monitoring; kondisi-kondisi yang dapat ditangani oleh apoteker antara lain sakit kepala, batuk, flu (cold), radang tenggorokan, sakit perut, konstipasi, diare, candidiasis vaginal, dan penyakit kulit, seperti alergi, gigitan/ sengatan serangga, ekzema, jerawat (acne), infeksi jamur, kutu rambut, dan skabies.
Pustaka :
a. Kumar, V., Abbas, A.K., and Fausto, N.F., 2005, Robins and Cotran Pathologic Basis of Disease, 7th Edition, Elsevier Saunders, Philadelphia.
b. DiPiro, J.T., et al., 2005, Pharmacotherapy A Patho-physiologic Approach, 6th Ed., McGraw Hill, New York.
c. Herfindal, E.T. and Gourley, D.R., 2000 Textbook of Therapeutics Drug and Disease Management, Lippincott Williams &Wilkins, Philadelphhia.
d. Chan, P.D., Johnson, M.T., 2004, Treatment Guidelines for Medicine and Primary Care, Curr. Clin. Str. Publ., Laguna Hills.
23). Administrasi Farmasi/Regristrasi [2]
Pendahuluan; membahas secara umum regristrasi produk farmasi, kosmetik, dan obat tradisional; Membicarakan bermacam-macam aspek kimia (QC), formulasi, farmakologi, dan mikrobiologi pada registrasi sediaan dan perbekalan farmasi; cara pengisian formulir registrasi; pembuatan label, dan pengelolaan wadah.
Pustaka :
a. Anonim, 2004, Cara Pengisian Formulir Registrasi Obat, Badan POM, Jakarta
b. Anonim, 2004, Cara Pengisian Formulir Registrasi Kosmetik, Badan POM, Jakarta
b. Anonim, 2004, Cara Pengisian Formulir Registrasi Makanan, Badan POM, Jakarta.
Catatan :
Silabus Kurikulum Institusional Program Pendidikan Apoteker ini disyahkan pada Rapat Majelis APTFI pada tanggal 30 April 2008 di Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta
Posted on 02 March 2009 by Admin Web
Dapatkan informasi terkait dengan Sistem Pendidikan serta Standar Praktek Kerja Profesi Apoteker pada link berikut ini :